JOLOK BENGKON

 

JOLOK BENGKON

Ketika Lisan Menjadi Api yang Memadamkan Kebaikan

Anwar Razu, M. Pd

Jolok Bengkon adalah istilah dalam budaya dan bahasa Gayo yang menggambarkan perilaku seseorang yang suka memprovokasi, mengusik, mengadu domba, atau sengaja membuat suasana menjadi keruh, sehingga usaha, hubungan, atau niat baik orang lain menjadi terganggu bahkan gagal.

Jolok Bengkon bukan sekadar ikut campur dalam urusan orang lain. Ia dapat muncul melalui fitnah, berita bohong, mengada-ngada, membesar-besarkan cerita, hingga menjatuhkan martabat seseorang di hadapan orang lain.

Lebih parah lagi, Jolok Bengkon dapat dilakukan oleh orang yang terlalu KEPO terhadap urusan orang lain—mencari tahu sesuatu yang sebenarnya bukan menjadi urusannya, kemudian menyebarkan informasi yang belum tentu benar. Bukan untuk menyelesaikan masalah, tetapi justru meniup kembali api yang sebenarnya sudah padam.

⚠️ HATI-HATI DENGAN LIDAH

Allah SWT telah mengingatkan kita agar tidak menjadi orang yang suka mencela dan menyebarkan fitnah:

هَمَّازٍ مَّشَّآءٍۭ بِنَمِيمٍ

“Yang banyak mencela, yang kian ke mari menghambur fitnah (adu domba).”
QS. Al-Qalam: 11

Karena itu, ketika mendengar sebuah berita, jangan tergesa-gesa menjadi penyambungnya. Saring sebelum sharing, tabayyun sebelum menyimpulkan.

Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kecerobohan, yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.”
QS. Al-Hujurat: 6

🚫 JANGAN MENJADI PROVOKATOR

Rasulullah SAW bersabda:

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَتَّاتٌ

“Tidak akan masuk surga al-qattat (tukang adu domba/provokator yang memungut perkataan orang untuk diadu).”
HR. Bukhari dan Muslim

Na'udzubillah.

Sebab, satu kalimat yang kita sampaikan mungkin terlihat kecil bagi kita, tetapi dapat menjadi besar di hati orang lain. Satu berita yang belum tentu benar dapat merusak persahabatan, keluarga, bahkan hubungan yang telah dibangun bertahun-tahun.

🌿 JADILAH PEMADAM API, BUKAN PENIUP API

Jika mendengar sesuatu tentang orang lain, tanyakan kepada diri sendiri:

Apakah berita ini benar?
Apakah berita ini perlu disampaikan?
Apakah perkataan saya akan memperbaiki keadaan atau justru memperkeruhnya?

Tidak semua yang kita ketahui harus kita ceritakan.
Tidak semua yang kita dengar harus kita teruskan.
Dan tidak semua urusan orang lain harus kita campuri.

Kadang diam adalah cara terbaik menjaga kehormatan.
Tabayyun adalah cara terbaik menjaga kebenaran.
Dan menutup aib saudara adalah cara terbaik menjaga persaudaraan.

🤲 MUHASABAH

Jangan sampai lisan kita menjadi sebab orang lain bertengkar.
Jangan sampai rasa ingin tahu berubah menjadi fitnah.
Jangan sampai kita sibuk mencari kesalahan orang lain, sementara lupa memperbaiki diri sendiri.

Jangan menjadi “Jolok Bengkon” yang meniup api.
Jadilah orang yang memadamkan api, mendamaikan yang berselisih, dan menjaga kehormatan sesama.

“Jika tidak mampu berkata baik, maka diamlah.
Jika mendengar berita, tabayyunlah.
Jika melihat perselisihan, damaikanlah.”

Semoga Allah SWT menjaga lisan, hati, dan langkah kita dari fitnah, namimah, adu domba, serta segala perbuatan yang merusak persaudaraan. Aamiin.

Comments