Umur Panjang, Pahala Berdatangan

Image
Umur Panjang, Pahala Berdatangan Prof. Dr. Ridwan Nurdin, MCL Allah memberikan kepada manusia umur yang rata-rata berkisar 70 hingga 90 tahun. Maka, yang terpenting bukan panjangnya usia, tetapi bagaimana kita mengisinya dengan kualitas dan kebaikan . Prof. Ridwan mengingatkan bahwa setiap kita perlu mempersiapkan hal hal berikut: 1. M enciptakan cerita hidup yang baik , sebagaimana kisah Tgk. Yusuf yang diceritakan oleh Bupati Aceh Tengah. Dia memiliki kenangan di Kelupak Mata ini. Sehingga ia masih di kenang.  Seseorang yang hidupnya penuh nilai dan teladan akan terus dikenang bahkan setelah ia meninggal dunia. Kisah-kisah kebaikan orang-orang terdahulu masih kita ceritakan hingga hari ini—misalnya kaum Anshar yang membantu kaum Muhajirin. Begitu besarnya pahala bagi mereka yang kebaikannya terus disebut meski telah tiada. 2. Menguatkan Kebersamaan Kebersamaan lahir dari hati yang baik. Hati yang bersih akan memanjangkan umur melalui silaturrahim yang erat . Ketika hati te...

Kisah Kebun Kurma yang terbakar bak keindahan Los Angeles


Kisah Kebun Kurma yang terbakar bak keindahan Los Angeles 

Merupakan kisah yang diungkap dalam Al Qur'an dalam kisah ini diceritakan bahwa lahan ini sangat subur, indah dan tak ada padannya. Bak kota los Angeles yang sangat indah. Namun, alangkah mengerikan dalam waktu semalam saja kebun ini menjadi abu dan hitam pekat.

QS Al-Qalam Ayat 17-29: Kisah Kebun yang Terbakar

Ayat ini menceritakan tentang sekelompok pemilik kebun yang dihancurkan oleh Allah karena sifat kikir dan ketidaktaatan mereka. Kepada Allah SWT. Mereka menganggap setiap usaha yang mereka dapatkan hasil usahanya sendiri tanpa campur tangan Allah SWT.

Berikut adalah terjemahannya:

Ayat 17-20:
Sesungguhnya Kami telah menguji mereka (kaum musyrik Mekah) sebagaimana Kami telah menguji para pemilik kebun, ketika mereka bersumpah bahwa mereka pasti akan memetik hasilnya di pagi hari,
tetapi mereka tidak menyisihkan (hak fakir miskin).
lalu kebun itu diliputi malapetaka (yang datang) dari Tuhanmu ketika mereka sedang tidur,
maka jadilah kebun itu hitam seperti malam yang gelap gulita.

Ayat 21-22:
Lalu mereka memanggil satu sama lain di waktu pagi,
"Pergilah di waktu pagi (ini) ke kebunmu jika kamu hendak memetik buahnya."

Ayat 23-24:
Maka pergilah mereka saling berbisik,
"Pada hari ini janganlah ada seorang miskin pun yang masuk ke dalam kebunmu."

Ayat 25-26:
Dan berangkatlah mereka di pagi hari dengan niat menghalangi (orang-orang miskin), padahal mereka mampu (menolong).
Maka ketika mereka melihat kebun itu (telah hancur), mereka berkata, "Sungguh, kita benar-benar orang-orang yang tersesat."

Ayat 27-29:
"Bahkan kita dihalangi (dari hasil kebun kita)."
Berkatalah seorang yang paling bijak di antara mereka, "Bukankah aku telah mengatakan kepadamu, mengapa kamu tidak bertasbih (bersyukur)?"
Mereka berkata, "Mahasuci Tuhan kami, sungguh, kami adalah orang-orang yang zalim."


Penyesalan Para Pemilik Kebun

Dalam Surah A-Qalam: 19-20 dikatakan “Lalu kebun itu ditimpa bencana (yang datang) dari Tuhanmu ketika mereka sedang tidur. Maka jadilah kebun itu hitam seperti malam yang gelap gulita”. Bencana ini terjadi ketika para pemilik kebun tersebut masih berniat dan bertekad akan mengambil hasil perkebunannya. Ketika mereka sedang tertidur lelap, seketika Allah SWT menggagalkan hasil panen mereka hingga kebun tersebut menjadi hitam.

Kesenangan, kebanggaan, dan usaha untuk menguasai hasil panen buah perkebunan para pemilik kebun seketika buyar tatkalah mereka menyaksikan kebunnya telah rusak dan hitam dikena bencana. Al-Qur’an menggambarkan keadaan mereka yang menyesal dan menyadari kesesatannya. “Maka ketika mereka melihat kebun itu, mereka berkata, “Sungguh, kita ini benar-benar orang-orang yang sesat, bahkan kita tidak memperoleh apa pun,” (QS. Al-Qalam: 26-27).

“Berkatalah seorang yang paling bijak di antara mereka, “Bukankah aku telah mengatakan kepadamu, mengapa kamu tidak bertasbih (kepada Tuhanmu)” Mereka mengucapkan, “Mahasuci Tuhan kami, sungguh, kami adalah orang-orang yang zalim”. Demikian QS. Al-Qalam: 28-29 memperlihatkan para pemilik kebun tersebut menyadari kesalahan mereka hingga bertaubat karena lalai mengingat Allah SWT.

Pesan dari Kisah Ini:

  1. Bersyukur kepada Allah: Nikmat dunia adalah amanah. Jika tidak disyukuri, Allah bisa mengambilnya kapan saja.
  2. Berbagi dengan Sesama: Jangan bersikap kikir, terutama kepada fakir miskin. Kekayaan sejati adalah yang bermanfaat bagi orang lain.
  3. Kepatuhan kepada Allah: Semua rencana manusia sia-sia tanpa izin Allah. Maka, selalu libatkan Allah dalam setiap langkah hidup kita.

Kisah ini menjadi pengingat penting agar kita selalu bersyukur, berbagi, dan menjaga hubungan baik dengan Allah dan sesama manusia.

Comments

Popular posts from this blog

Berita Bohong

Sinergi Dakwah dan Kepedulian Sosial untuk Generasi yang Lebih Baik

Umur Panjang, Pahala Berdatangan