Umur Panjang, Pahala Berdatangan

Image
Umur Panjang, Pahala Berdatangan Prof. Dr. Ridwan Nurdin, MCL Allah memberikan kepada manusia umur yang rata-rata berkisar 70 hingga 90 tahun. Maka, yang terpenting bukan panjangnya usia, tetapi bagaimana kita mengisinya dengan kualitas dan kebaikan . Prof. Ridwan mengingatkan bahwa setiap kita perlu mempersiapkan hal hal berikut: 1. M enciptakan cerita hidup yang baik , sebagaimana kisah Tgk. Yusuf yang diceritakan oleh Bupati Aceh Tengah. Dia memiliki kenangan di Kelupak Mata ini. Sehingga ia masih di kenang.  Seseorang yang hidupnya penuh nilai dan teladan akan terus dikenang bahkan setelah ia meninggal dunia. Kisah-kisah kebaikan orang-orang terdahulu masih kita ceritakan hingga hari ini—misalnya kaum Anshar yang membantu kaum Muhajirin. Begitu besarnya pahala bagi mereka yang kebaikannya terus disebut meski telah tiada. 2. Menguatkan Kebersamaan Kebersamaan lahir dari hati yang baik. Hati yang bersih akan memanjangkan umur melalui silaturrahim yang erat . Ketika hati te...

Muhasabah


Muhasabah

Muhasabah artinya menghisab dan menghitung atau mengevaluasi tentang diri sendiri. Setiap manusia memiliki kesalahan dan kesilapan. Maka sepantansnya kita sebagai makhluk untuk terus menghisab diri supaya menjadi lebih baik.

Didalam Al-Qur'an Allah SWT berfirman

{ فَأَمَّا مَنۡ أُوتِیَ كِتَـٰبَهُۥ بِیَمِینِهِۦ (7) فَسَوۡفَ یُحَاسَبُ حِسَابࣰا یَسِیرࣰا (8) }

Maka adapun orang yang catatannya diberikan dari sebelah kanannya, Maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah, [Surat Al-Insyiqaq: 7-8]

Dalam Tafsir Ibnu Katsir dijelaskan. Bahwa Rasulullah SAW pernah mengatakan dalam sebuah doa. Ya Allah hisablah diriku dengan hisaban yang sangat mudah. Maka Rasulullah pun ditanyai oleh Aisyah RA.


قَالَ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ إِسْحَاقَ، حَدَّثَنِي عَبْدُ الْوَاحِدِ بْنُ حَمْزَةَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الزُّبَيْرِ، عَنْ عَبَّادِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الزُّبَيْرِ، عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: سمعتُ رسولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ فِي بَعْضِ صَلَاتِهِ: "اللَّهُمَّ حَاسِبْنِي حِسَابًا يَسِيرًا". فَلَمَّا انْصَرَفَ قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَا الْحِسَابُ الْيَسِيرُ؟ قَالَ: "أَنْ يَنْظُرَ فِي كِتَابِهِ فَيَتَجَاوَزُ لَهُ عَنْهُ، إِنَّهُ مَنْ نُوِقش الحسابَ يَا عائشةُ يَوْمَئِذٍ هَلَكَ".

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ismail, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ishaq, telah menceritakan kepadaku Abdul Wahid ibnu Hamzah ibnu Abdullah ibnuz Zubair, dari Abbad ibnu Abdullah ibnuz Zubair, dari Aisyah yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Rasulullah Saw. dalam salah satu salatnya mengucapkan doa berikut: Ya Allah, hisablah diriku dengan hisab yang mudah. Setelah beliau selesai dari salatnya, aku bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah yang dimaksud dengan hisab yang mudah?" Rasulullah Saw. menjawab: Ia melihat kepada kitab catatan amal perbuatannya, lalu Allah memaafkan kesalahan yang tercatat di dalamnya. Hai Aisyah, sesungguhnya orang yang diteliti dalam hisabnya di hari itu pasti binasa.

Hadis ini sahih, tetapi dengan syarat Muslim.


Umar Bin Khatab juga berkata Hisablah dirimu Terlebih dahulu sebelum engkau di hisab, itu akan memudahkan hisab kalian kelak. Timbanglah amal kalian sebelum ditimbang kelak. Ingatlah keadaan yang genting pada hari kiamat.


Menghisab diri dengan cara merenungi setiap amal perbuatan yang dilakukan mana lebih banyak Amal Baik kah atau amal keburukan. Sehingga dengan cara menghisab diri tersebut akan memperbaiki setiap kesalahan yang pernah di perbuat. 

Banyak hal yang harus kita hisab. Seperti:

Pertama,

Hubungan dengan Allah SWT melalui Amal Ibadah. Seperti perintahnya apakah sudah kita kerjakan atau belum? Ketaatan kepada-Nya apakah sudah benar-benar dikerjakan? Rasa syukur, penghambaan dan lain sebagainya yang berhubungan dengan Allah SWT.

Kedua,

Hubungan kita dengan sesama manusia. Terlebih utama hubungan dengan Orang tua, apakah sudah bagus atau sebaliknya masih banyak kesalahan? Kemudian hubungan dengan keluarga atau katib kerabat apakah sudah bagus?, Kemudian hubungan dengan tetangga dan masyarakat.


Dengan demikian, muhasabah Hablum MinAllah dan Hablum MinAnNas terebut niscaya akan menjadi lebih dekat diri kita pada kebaikan. Karena muhasabah bertujuan untuk memperbaiki kesalahan.

Wallahu A'lamu Bisshawaf.


Anwar Razu, M. Pd

Comments

Popular posts from this blog

Berita Bohong

Sinergi Dakwah dan Kepedulian Sosial untuk Generasi yang Lebih Baik

Umur Panjang, Pahala Berdatangan